Jabat Erat Persaudaraan

14.8.16

Ritual pemotongan anak anak berambut gimbal di Dieng 2016

Banjarnegara  – Tembang Jawa macapat Dandang Gula menandai dimulainya prosesi pemotongan rambut gimbal di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (7/8/2016).
Sesekali, Ulfi Silviana yang masih berusia tiga tahun menoleh ke belakang. Ia tetap tidak mau turun dan bermain bersama anak-anak lainnya.Anak yang rambutnya gimbal itu lebih memilih di gendongan neneknya. Ketika dipanggil dengan nama panggilan Silvi, ia menoleh, tetapi kemudian wajahnya disembunyikan.“Anak ini memang malu-malu,” kata kakek Silvi, Dulmajid, yang ikut serta mengantarkan cucu tersayangnya itu.
Dulmajid, warga Wonosobo, Jawa Tengah, tersebut mengungkapkan bahwa orang tua harus mengabulkan keinginan anak sebelum prosesi ruwatan dan pemotongan rambut gimbal dimulai.Keinginan Silvi cukup unik, yakni dua pemain Lengger yang mengantar serta kalung emas. “Alhamdullilah, permintaannya sudah saya penuhi,” kata Dulmajid kepada wartawan di Dieng,

Ia mengatakan, rambut gimbal Silvi muncul begitu saja sejak berusia dua tahun. “Sebelum muncul rambut gimbal, anak tersebut panas badannya. Sudah diperiksakan ke dokter dan dinyatakan tidak apa-apa, hanya panas biasa. Namun kemudian, pagi harinya muncul rambut gimbal,” katanya.
Berbeda dengan Silvi, Zifara Khirunnisa atau biasa dipanggil Fara malah terus berpose di depan kamera. Bahkan, bocah berusia empat tahun itu tidak canggung ketika diminta bergaya.


“Anak ini memang tidak malu-malu dan tak takut kalau ditanya-tanya. Ia hanya meminta lima buah durian dan uang berwarna merah,” kata Rokhanah, ibu Fara.
Gaya anak-anak berambut gimbal itu memang beragam, sama seperti permintaan mereka sebelum prosesi ruwatan dilaksanakan. Selain Silvi dan Fara, sembilan anak lainnya yang rambut gimbalnya akan dipotong juga memiliki bermacam-macam permintaan yang unik.
Misalnya saja, Madina Jauza yang berusia 6,5 tahun yang minta baju bergambar animasi Frozen. Anak lainnya meminta boneka, marmut, karet gelang, bahkan ada yang minta anak sapi.


PROSESI RUWATAN

 Prosesi ruwatan dimulai dari rumah tetua adat setempat di Dieng, Batur, Banjarnegara. Anak-anak berambut gimbal yang hendak diruwat dikumpulkan. Di tempat itu, juga telah disiapkan segala sesuatu yang diminta oleh anak-anak tersebut.
Dari rumah tetua adat, mereka mengikuti arak-arakan keliling kampung di dataran dengan ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut. Kemudian, ke-11 anak dibawa ke Kompleks Dharmasala untuk mengikuti jamasan rambut. Air jamasan diambilkan dari Sendang Sedayu.



Anak-anak lalu dibawa ke Kompleks Candi Arjuna, Dieng, untuk dipotong rambutnya. Setelah tembang Dandang Gula dilantunkan, prosesi pemotongan rambut pun dimulai. Yang memotong rambut adalah para sesepuh dan pejabat sekitar.

Sesepuh di dataran tinggi Dieng yang juga memimpin prosesi ruwatan rambut gimbal, Naryono, mengatakan bahwa prosesi pemotongan rambut gimbal merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.Menurut Naryono, yang dulunya juga merupakan anak berambut gimbal, rambut gimbal umumnya dialami sebagian penduduk di kawasan lereng empat gunung, yakni Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Prahu dan Gunung Rogojembangan.

“Jadi, kalau ada permintaan dari anak berambut gimbal, harus dipenuhi. Jika permintaan telah dikabulkan orang tuanya, pemotongan rambut gimbal baru dapat dilaksanakan,” ujarnya.Dari cerita turun temurun di wilayah empat gunung itu, fenomena rambut gimbal pasti bakal terjadi.Menurut kepercayaan masyarakat setempat, anak-anak yang rambutnya gimbal merupakan titipan Anak Bajang dari Samudra Kidul. Mereka merupakan titisan dari Eyang Agung Kolotede bagi anak laki-laki dan perempuan merupakan titisan dari Nini Dewi Roro Ronce.
Dulu, warga menganggap bahwa anak yang berambut gimbal adalah sukerta yang berarti sial atau kesedihan. Namun dalam perjalannya, ruwatan pemotongan rambut gimbal ternyata telah menjadi agenda wisata kultural Dieng yang setiap tahunnya digelar dan masuk dalam agenda Dieng Culture Festival (Hengky Kik )

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

2 Comentários:

Idah Ceris said...

Cantik-cantik bangeet pada pakai kebaya. :)

DCF yg kmrn ramai ya, Mas? Aku kagak naik. :D

Wuri Wulandari said...

keren ih pengen deh dateng kalo ada event ini di dieang, aku belum pernah ke dieng :D

Post a Comment

For Sale

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Blog Archive

Recent Comments

Vespa Style Never Last © 2008. Template by Hengky Kik.

SCOOTMAN